Haaaaa, mah...mah...itu ada suara
apaan di luar," seruku ketakutan, berusaha membangunkan mamaku. Malam ini
ku sesali untuk tidur terlalu malam, karena ke asyikkan menonton film tengah
malam. Aku ingat...itu TVRI,
satu-satunya program yang ada dan masuk ke daerah kami.
Suara seperti bayi menangis
ditambah suara cekikin tertawa berasal dari luar dekat dengan jendela kamarku,
bersahutan.... ditambah suara anjing tetangga meraung-raung dekat dengan pagar hidup
rumahku.
"Ma, bangun...,"
bertambah panik diriku membangunkan mama dengan setengah berteriak.
Namun mama ku hanya membuka
matanya," shhhhhhhtt," ucapnya sambil menempelkan jari telunjuk ke
mulutnya menyuruhku diam.
Aku heran melihat begitu tenangnya
mama dan hanya menepuk-nepuk bantalku sebagai isyarat untuk tidur kembali. Aku
mengikuti isyarat tersebut dan hanya menikmati suara yang berasal dari luar
kamar yang berangsur-angsur menjauh sampai lenyap sama sekali. Malam ini
pilihanku tepat sekali, mengajak mama untuk tidur menemaniku.
"Untung ada mama,"
pikirku.
Esok harinya perihal suara
tersebut akhirnya terbongkar, walaupun masih tidak percaya mendengar apa suara
tersebut, namun hanya itu yang bisa aku percaya. Mendengarnya pun membuat
diriku bergetar dan menambah pucat raut wajahku yang cukup imut-imut kalau
menurut ibu-ibu di kampungku.
"Mungkin malam ini aku bakal
tidur ditemani mama lagi," pikirku.
Berita
tersebut aku dapatkan dari seorang ibu yang menjadi tetanggaku. Kebetulan ia
lebih dahulu menanyakan kepadaku, apakah aku mendengar suara aneh tadi malam?
Aku pun dengan cepat menceritakan kepadanya. Ia hanya tertawa senang melihatku
ketakutan. Tertawanya ibu tetangga rumahku ini membuatku sewot, "orang
serius cerita, ia malah tertawa," pikirku sambil menatap tetanggaku itu
dengan sewot dan tatapan mencurigakan, "jangan-jangan ia yang punya ulah
menakut-nakutiku," pikirku curiga.
Ia pun
menghentikan tawanya dan menjawab serius hanya dengan satu jawaban
“kuntilanak....!!!”
Setiap
ibu-ibu di kampungku termasuk para gadis-gadis dewasa sangat senang membuatku
ketakutan...bukan hanya kaum perempuan di kampung ini tetapi kaum perempuan
yang masih berstatus saudara ku pun sangat senang melihatku sewot ataupun
ketakutan. Alasannya mereka senang melihat tampangku yang tiba-tiba pucat pasi
tanpa darah, terdiam membisu dan mengkerutkan kening seperti berpikir, belum
lagi tatapan mataku yang membelalak seperti tidak percaya menatap mereka yang
membuatku sewot.
Entahlah,
menurutku biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh dan tetap tidak mengerti
melihat tingkah orang-orang dewasa ini. Bahkan ada beberapa orang dewasa yang
senang memegang daun telingaku setiap bertemu, katanya kenyal dan
menggemaskan...
"Sungguh
aneh orang-orang dewasa," pikirku melihat kelakuan mereka. Terkadang aku
risih, ringkuh tetapi karena pendidikan orang tuaku yang mengharuskan aku
menghormati orang yang lebih tua, ya mau tidak mau hanya pasrah.
Memang
aku akui bahwa tampangku cukup menggemaskan, dengan tubuh yang berkulit putih,
muka tidak ancur-ancur banget tapi menurut para fans aku seperti Andy
Lau...huekkkk..., dengan rambut hitam ikal dan hidung mancung. Kelebihanku
hanyalah mempunyai jidat licin dan luas seperti lapangan sepak bola dan telinga
caplang seperti para Profesor-profesor pintar di televisi. Mungkin suatu saat
aku akan seperti mereka barangkali...
Sebagian
besar diriku merupakan duplikat dari mama yang berasal dari Palembang. Dari ayahku
yang kuwariskan hanyalah sepasang mata yang sipit sipit belo'...Mama...ya
mungkin ketika melihatnya kalian bisa menebak bahwa asal mama mungkin ada
keturunan Etnis China. Menurut cerita kebanyakan dari suku asli beliau berasal
dari keturunan para perampok selat malaka, yang dulu menguasai reruntuhan
kerajaan Sriwijaya, sikapnya
pun kasar seperti orang-orang asli lainnya.
Yah...aku
akui sekeliling kampungku juga pergaulannya kasar dan berbahaya. Tidak aneh
kalau melihat sesama saudara berkelahi dan berlari kejar-kejaran dengan membawa
parang. Setiap hari berita pertikaian berdarah antar sesama teman, bersenggolan
atau bertatapan kasar pun bisa jadi masalah besar, apalagi kalau menabrak ayam
yang lagi parkir di tengah jalan, bisa-bisa di tukar dengan nyawa.
Ditengah
tengah suasana seperti itulah aku dibesarkan. Dengan memegang nama panggilan
Aan, simple keren dan tidak bertele tele kata mama. Namun sifatku ternyata
penakut, cemen, ayam sayur. Aku hanya beraninya berantem dengan sesama lelaki,
tetapi sangat takut dengan gelap. Apalagi jika malam telah tiba dan kegelapan
menyelimuti jalan-jalan di kampungku, aku pun menjadi ciut.
Kampungku
sebenarnya tidak banyak penghuninya. Rumahnya pun jarang-jarang dan masih
banyak di tumbuhi pepohonan dan kebun kepunyaan masyarakat sekitar. Selain itu
di depan rumahku terdapat Lapangan bola voli yang sudah berganti fungsi menjadi
lapangan bola kaki milik anak-anak kampung ini yang jumlahnya cuma segelintir.
Karena jaraknya antara rumah yang satu dan rumah yang lain jarang-jarang,
makanya masih ada tanah sekitar jalan yang tidak di terangi lampu jalan. Di
tambah dengan jarang penghuni, sehingga ketika malam tiba tidak ada seorang pun
yang berada di jalan atau nongkrong di luar. Sialnya...ada saja tugas yang di
berikan mama ketika malam menjelang, seperti malam ini.
"Aan,
beli mie goreng, gula dan kopi ya di warung bi unah," suruh mamaku ketika
selepas salat magrib. Tidak menunggu waktu lama, aku pun sudah kembali dengan
muka merah dan ngos-ngosan karena capek berlari. Jarak antara
rumah dan warung bi unah lumayan jauh sekitar 100 m, berarti pulang pergi aku
sudah menempuh jarak 200 m...gimana gak ngos-ngos-an!!!. Itu alasan mama ku menyuruhku
berbelanja di malam hari, karena ia yakin aku pasti akan cepat kembali dan
tidak akan menyimpang kemana-mana. Mamaku tau mengenai kelemahan anak sulungnya, tapi tetap di
biarkan saja. Menurutnya masih terlalu kecil dan belum pantas melihat dunia di
luarnya
.
"Hm....ada
benarnya juga, karena sekarang aku sudah besar dan bisa melihat dunia luar...sehingga
malah lupa pulang dan kelayapan hingga pagi tiba,"
Ketakutanku
yang lain adalah dengan yang namanya makhluk cantik yang tidak pernah aku
mengerti sampai sekarang. "Duuuuh...gak tau dech, apa perasaaaku jika
bertemu perempuan cantik, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata dan
tulisan...hm...kaya gitu dech...deg-degan...senyam senyum...keluar air
liur...menelan lidah sendiri hingga tersedak, mata berbinar-binar, pikiran
mengangkasa seperti berada di surga dengan di iringi oleh musik indah yang di
petik oleh cupid yang mengitari kepalaku. Aku...hanya bisa memandang dan tidak
punya keberanian sedikitpun untuk berkenalan ataupun berbicara sepatah kata
pun...diam...membisu dan hanya bisa mengagumi...kasihan...cemen amat.
Pernah
kejadian suatu waktu sehabis hari raya. Aku melihat teman-teman perempuanku
satu kelas di sekolah dasar, memasuki pekarangan rumahku. Aku pun pucat pasi,
tidak tau harus bagaimana...tanpa pikir panjang aku pun keluar dari pintu
belakang rumah dan memanjat pagar tembok belakang rumah lalu bermain bersama
teman-temanku. Mama ku hanya berdiri mematung dan hanya melihat kelakuan
anaknya yang aneh. Baru ketika pintu depan di ketuk dan di buka, baru mama
mengetahui bahwa aku kabur karena akan kedatangan teman-temanku perempuan satu sekolah.
Jujur sih, sebenarnya di sekolah juga aku tidak pernah akrab dengan kaum
perempuan. Hanya bertegur sapa saja dan biasanya teman perempuan ku yang
duluan menyapa baru aku membalas...
Alhasil,
aku pun di ceramahi panjang lebar oleh ayah dan mamaku. Tapi ya...harus
bagaimana lagi...belum ada keberanian untuk berkenalan dengan makhluk aneh yang
bernama perempuan. Padahal adik ku perempuan, memang tidak pernah akur, tidak
pernah aku mengerti maunya apa?, super bawel, banyak maunya, cengeng dan manja.
Malam
menjelang tiba. Muncul sudah kekhawatiran ku dari tadi pagi. Akan tiba saatnya
si perempuan halus yang akan menyusahkan malam malamku kembali.
“hadeuuuh..hadeuuuh..memang
yang namanya perempuan kok selalu menyusahkan. “ pikirku sambil termenung.
“aku
harus membujuk mama agar nanti malam kembali menemaniku tidur,“ pikirku kembali
sambil melihat mama yang sedang mengaji setelah melakukan ritual salat Magrib.
Setelah
melihat mama yang sedang menutup Alquran dan akan beranjak dari tempat salat. Aku
pun dengan sigap sudah berada disamping mama.
“Ma,
hm....emang waktu kecil mama gak pernah takut kalau malam tiba?” tanyaku sambil
mendongak melihat mama yang terkejut aku sudah ada disampingnya.
“hmmm.
Gak tuh, khan waktu itu mama punya Mama Nawar (Mama adalah panggilan untuk Laki
laki yang dituakan, biasanya merupakan panggilan untuk para cucu ke orang yang
lebih tua dari saudara bapak atau ibu), Wa Asmah (Wa adalah panggilan untuk
saudara perempuan yang yang dituakan, biasanya merupakan panggilan untuk para
cucu ke orang yang lebih tua dari saudara bapak atau ibu) dan mama nurdin.”
Jawab mama sambil tersenyum.
“loh tidurnya barengan,” jawabku
bersemangat.
Iya, memang kenapa.” Jawab mama
sambil menatap wajahku untuk menebak arah pembicaraanku.
“Nyai sama Abah tidur bareng juga,”
selidikku sambil berusaha untuk tidak menatap mama.
“Nggak sih, nyai sama Abah tidur
dikamar nya sendiri.”Jawab Mama sambil meletakkan Alquran dan alat salat di
atas meja kamar mama. Lalu mengacuhkan ku yang sepertinya mama berpikir bahwa
Aku hanya berbasa basi memberikan pertanyaan anak anak yang hanya ingin tahu.
“Mama gak merasa ketakutan tidur
dengan mama dan wa? Mereka khan masih kecil. Kalau ada apa apa di tengah malam
gimana?” Tanyaku.
“ya, Alhamdulillah tidak ada apa
apa kok, buktinya mama masih ada disini,” jawab mamaku acuh tak acuh.
“Maksud aan, kalau tiba tiba ada
hantu muncul di kamar gimana mah?” Tanyaku sambil melotot ke arah mama, ada
kekakuan di lidah dan perasaanku yang tidak menentu. Ada gelombang takut yang
tiba tiba muncul seakan akan tidak mau melewati malam ini.
Mama pun tersenyum dan mengerti
arah pembicaraanku. ia pun berjongkok di depanku lalu menatap wajahku dan
berkata pelan namun mantap.
“Hantu itu sebenarnya hanya setan
atau iblis yang ingin menggoda manusia An. Mereka juga sebenarnya takut kepada
manusia, apalagi manusia nya berani. Tapi.....jika aan takut, mereka dengan
sukarela akan terus menggoda bahkan muncul di depan manusia tersebut.
Jadi....aan harus jadi anak berani ya sayang...berani dong....udah sekolah
dan harus bisa jadi contoh Rika dan Deni.” Jelas mama sambil terus menatap ku
seolah olah sedang mencoba menebak apakah aku akan menerima perkataan mama atau
hanya lewat saja di telingaku.
Aku pun hanya mengangguk pelan dan
berusaha untuk mematri hati ku untuk berani, namun ada pertanyaan yang masih
ingin aku berikan ke mama.
“tapi kenapa mama waktu kecil
tidurnya bisa sama mama dan wa, ma?” tanyaku pelan dan malu malu karena
pertanyaanku merupakan pertanyaan yang merupakan kebalikan dari apa yang
barusan mama jelaskan kepadaku untuk berani sendiri.
“Ya iyalah, waktu mama kecil ya
rumah mama kecil dan tidak sebesar sekarang yang di tempati oleh nyai,” sahut
mama tertawa sambil berlalu ke arah dapur.
Aku
pun termangu dan termenung sendiri di depan kamar mama. “Apakah aku bisa berani
melewati malam ini, tapi kata mama jika aku takut para hantu akan semakin
berani menampakkan diri,” aku pun bergidik jika membayangkan hal tersebut
terjadi padaku. Namun ada yang menyeruak dalam hatiku. Perasaan ingin
membuktikan bahwa aku berani dan bisa melalui malam ini. Akhirnya tekad ku pun
bulat, aku akan mengajak Deni untuk menemani ku tidur malam ini,” ha ha ha ha,
masih juga takut ya An,” pikirku.
Hasilnya
aku pun tidak sukses membujuk adikku untuk tidur dikamarku. Ternyata deni sudah
mendengar kisah tadi malam juga dari ibu tetangga rumahku, lalu memutuskan
untuk tidur dikamar mama. Akhirnya kembali radio butut kepunyaan papaku yang menemani
dan mengiringiku tidur. Aku pun dengan sengaja mendengarkan suatu frekuensi
radio seperti kebiasaanku. Kebiasaanku ini di mulai setelah aku mendapatkan
ijin untuk membawa masuk radio tape recorder kepunyaan papa masuk kedalam
kamarku. Hanya itu yang mampu menemaniku belajar, tidur dan beraktifitas di
dalam kamarku ini.
Denah
kamarku terletak paling depan dan bersebelahan dengan ruang tamu. Jarak dari
pagar hidup yang membatasi jalan umum dengan halaman rumah depan dari kamarku
hanya sekitar 5 meter. Jadi tidak heran segala hal hal yang terjadi didepan
rumahku dapat terdengar jelas dari kamarku. Sebelah kanan dari kamarku adalah
halaman samping yang berjarak 4 meter dari kali yang di kelilingi oleh pagar
hidup yang sengaja di tanam oleh papa. Papa merupakan seorang yang sangat
mencintai tanaman dan tanah. Pintar untuk menanam apapun dan sudah pasti tumbuh
dengan baik. Jadi tidak heran ada beberapa tumbuhan yang di tanam oleh papa
tumbuh dan berkembang dengan baik dan menghasilkan buah buahan yang dapat kami
nikmati sekeluarga, seperti Jambu air, Jambu bangkok biji, jeruk Nipis,
Rambutan, bahkan pohon pisang.
Seperti
malam ini juga, aku pun sudah standbye di depan meja belajarku. Mencoba untuk
mengusir rasa takut yang sebentar lagi akan memuncak bersamaan dengan jarum jam
yang semakin mengarah ke atas. Jam 9 malam, akhirnya ku putuskan untuk beranjak
ke atas tempat tidur dan meninggalkan tas yang berisi buku yang sudah ku
persiapkan untuk besok diatas meja belajar. Aku pun mengecilkan volume radio
dan membawa komik kesukaan ku yang sudah berkali kali aku baca. Kebiasaanku membaca
hanya merupakan pemancing lelah di mata supaya aku pun lekas tidur. Namun bukannya
tidur, pikiranku mengembara kemana mana. Telingaku dengan tajam menembus keluar
mendengarkan beberapa gerakan gesekan dedahan pohon rambutan yang berada dekat
dengan kamarku. Dengkingan kodok yang bernyanyi riang bersahut sahutan di kali
sebelah rumahku. Siuran angin yang menggoyangkan beberapa daun daun dan mulai
bergoyang turun ke tanah lepas dari dahannya. Beberapa jangkrik yang berteriak
monoton bersahut sahutan tidak mau kalah dari kodok yang tingal bersebelahan
dengan mereka di rerimbunan pagar hidup yang mengelilingi kali.
Walaupun
radio mendengarkan beberapa lagu pilihan yang tengah hit dan mengalun pelan
mengisi kamarku, namun tidak menghalangi telingaku mendengarkan apa yang
terjadi di luar. Derikan pelan sepeda yang di kayuh dan ban yang bergulir pelan
melewati kubangan becek di depan rumahku pun terdengar.
“ Pak Eman baru pulang dari kerja.”
Pikirku sambil membayangkan wajah ramah pak Eman. Pak eman merupakan orang tuanya
Indra yang merupakan teman sepermainan denganku di kampung ini.
Tidak
beberapa lama aku pun mendengar langkah langkah binatang yang berlarian entah
ada beberapa ekor serta dengusan napas anjing yang sedang berpacu berlari,
entang anjing siapa. Di sekitar rumahku memang ada beberapa keluarga yang masih
memelihara Anjing dan sering dilepas keluar jika malam tiba. Aku pun menebak
nebak anjing siapa yang baru lewat di depan rumahku ini. Beberapa nama keluarga
lewat di kepalaku, walaupun mata ku tetap terpejam dan memikirkan keluarga
siapa saja yang sering melepas anjingnya berkeliaran di malam hari. Tidak beberapa
lama terdengar beberapa kucing mengeong di depan kamarku. Sepertinya kali ini
ada 2 ekor kucing yang sedang bercengkrama. “ mungkin kucing mau kawin kali.” Seruku
dalam hati sambil tersenyum dalam diam dan masih dalam posisi mata terpejam.
Entahlah
sudah beberapa jam pikiran dan telingaku mengembara menyelusuri detik demi
detik, menit demi menit bahkan jam demi jam. Menyelusuri titik demi titik,
langkah demi langkah, suara demi suara. Entahlah hanya angin, kabut yang bisa
menyaksikan apa yang terjadi di luar kamar. Namun seperti biasa aku pun masih
terjaga seperti terjaganya beberapa ekor kodok dan jangkrik yang menemaniku
malam ini. Ada perasaan nyaman ketika mendengarkan mereka masih ada menemaniku
malam ini. Ditambah deburan air kali yang menandakan ada beberapa ikan yang
mencoba masih terjaga mencari makan dalam kepekatan malam ini.
Tidak
ada sang perempuan malam seperti malam kemarin, namun aku mencoba untuk tidak
berpikir ke arah sana. Aku hanya seorang anak kecil yang pasrah atas apa yang
akan terjadi di kamar ini. Aku hanya lah seorang anak kecil yang mencoba untuk
mencari jati diri dan pengalaman untuk aku alami dan jadikan pelajaran kedepan
demi langkahku kemudian. Kata kata mama sore tadi masih membekas di ingatanku. Aku
pun tersenyum dan menyapu pipiku kearah bantal empukku. Kucoba untuk
mendengarkan lagu beberapa teman temanku sang pengisi malam di luar. Kucoba satukan
dengan lagu lagu yang mengalun pelan keluar dari radio bututku yang mengisi
relung relung kamarku. Aku bersyukur bahwa malam ini aku di temani oleh sang
pengisi malam yang selama ini aku tidak pernah sadari bahwa mereka ada karena
mereka memang ada untuk menemaniku. Berharap bahwa mereka terus bersuara karena
jika mereka tidak bersuara sudah pasti ada sesuatu yang akan terjadi. Namun ingatan
kecilku terus berusaha mengusir segala sesuatu yang membuatku khawatir malam
ini.
Akhirnya
aku pun tidak ingat apa yang terjadi, yang pasti aku pun telah menyatu dengan
alam bawah sadar kecilku. Terbuai dengan alunan sang pengisi malam. Tidak tahu
dan tidak sadar bahwa sang pengisi malam tidak beberapa lama tengah terdiam
karena yang di nanti sedang bergentayangan mencari sasaran yang tengah dituju. Yang pasti besok malam aku akan mendengar dari
tetangga sebelah rumah bahwa si perempuan malam telah hadir disamping rumahku
menunggu sesuatu yang ada di perut mamaku. Ya calon adikku tengah tidur
bersemayam didalam perut mama dan tengah diincar oleh si perempuan malam, ya...
perempuan malam atau si kuntilanak...
No comments:
Post a Comment